PEMBELAJARAN
IPS SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI
Disusun
untuk melengkapi tugas matakuliah Pengembangan Pembelajaran IPS di SD
Dosen
pengampu Mujinem, M.Pd
Oleh
Murwantara
(10108247051)
Kelas
H PKS
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2011
Abstrak
Pembelajaran IPS sebagai salah satu mata
pelajaran pokok di sekolah dasar sangat memiliki peran yang sangat besar dalam
pembentukan diri siswa. Pembentukan diri siswa dapat dilaksanakan dengan
menerapkan pembelajaran yang di dalamnya tidak hanya mengajarkan konsep-konsep
kognitif tetapi juga harus mengedepankan penanaman nilai-nilai kebaikan.
Nilai-nilai kebaikan ini bertujuan agar peserta didik dapat tumbuh menjadi
manusia yang memiliki jatidiri dan karakter yang baik. Saat ini pendidikan
banyak yang orientasinya hanya membentuk manusia yang cerdas tapi kurang
memperhatikan budi dan akhlaknya.
Meskipun IPS bukan mata pelajarn
yang secara nyata mengajarkan konsep-konsep tentang moral ataupun akhlak namun
melalui IPS pun nilai-nilai kebaikan tetap dapat ditanamkan pada diri siswa.
Muatan materi dalam pembelajaran IPS yang sangat banyak dan dekat dengan
kehidupan nyata siswa sangat berpotensi dijadikan sarana menanamkan nilai-nilai
kebaikan pada diri siswa. Cabang-cabang IPS yang terdiri dari sejarah, ekonomi,
geografi, sosiologi, dst dapat dimuati nilai-nilai yang sesuai dengan kajian
utama cabang-cabang ilmu tersebut.
Berdasarkan kenyataan bahwa saat ini
sedang gencar dilaksanakan pendidikan karakter dengan langkah awal melaksanakan
pendidikan nilai dalam sekolah. Selain itu, penanaman nilai pada diri siswa
juga sangat dipengaruhi oleh adanya keteladanan dari diri seorang guru. Hal ini
mengingat guru adalah model bagi para siswanya.
Kata
Kunci : Pendidikan nilai, karakter, model, IPS
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
bukanlah sekedar proses pemindahan ilmu dari guru kepada siswa atau yang
populer disebut dengan transfer of knowledge. Lebih dari itu pendidikan
merupakan proses merubah, membentuk hingga menjadikan subjek pendidikan kita
yaitu peserta didik secara seutuhnya menjadi manusia yang berguna, berkarakter
dan memiliki jatidiri. Untuk dapat menjadikan peserta didik menjadi manusia
yang berguna, berkarakter dan memiliki jatidiri maka perlu adanya penanaman
nilai-nilai kebajikan pada diri peserta didik. Sebagaimana saat ini yang sedang
digalakkan oleh pemerintah, yaitu tentang pendidikan karakter, maka pendidikan
saat ini dituntut dapat menjadi saranan menanamkan nilai-nilai yang mampu
membentuk karakter peserta didik.
Adanya
pandangan bahwa penanaman nilai yang mengarah pada pembentukan karakter siswa
hanya dapat dilaksanakan dalam mata pelajaran tertentu harus jauh-jauh kita
buang. Bahwa penanaman nilai pada diri siswa dapat dilakukan melalui semua mata
pelajaran, tak terkecuali pendidikan sosial, dalam hal ini adalah IPS.
Pendidikan nilai yang bertumpu pada pembentukan karakter siswa dapat dilakukan
melalui semua mata pelajaran secara terintregasi dalam pembelajaran.
Dalam
makalah ini akan dibahas bagaimanakah proses penanaman nilai melalui mata
pelajaran IPS dan bagaimana pula peran mata pelajaran IPS dalam menanamkan
nilai kepada siswa. Meski pun kebanyakan orang beranggapan bahwa penanaman
nilai hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti, Pendidikan
Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan, namun sejatinya melalui IPS pun proses
penanaman nilai pun dapat dilaksanakan.
Terkait
bahwa esensi dari tujuan pembelajaran IPS adalah berkaitan dengan tatanan
kehidupan baik di keluarga, masyarakat maupun dalam lingkup kehidupan berbangsa
dan bernegara, maka sebenarnya IPS sangat dapat dijadikan sebagai media
penanaman nilai-nilai kebajikan bagi siswa.
B. Rumusan
Masalah
1. Apakah hakikat tujuan pembelajaran Penegtahuan
Sosial di SD ?
2. Apakah pengertian nilai ?
3. Bagaimanakah pengembangan pendidikan
nilai dalam pembelajaran IPS di SD ?
C. Tujuan Penulisan Makalah
Sebagaimana
telah terumuskan di atas, maka dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai
jawaban atas pertanyaan yang muncul tadi. Dalam makalah ini akan membahas
mengenai :
1.
Hakikat
tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
2.
Mendeskripsikan
pengertian nilai dari berbagai sumber
3.
Memaparkan
pengembangan pendidikan nilai dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
BAB
II
Pembahasan
1. Hakiakat
Tujuan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
Pengetahuan
sosial tidak lahir dari bangsa Indonesia. Akan tetapi Social Studies ini
berkembang dan akhirnya menjadi suatu mata pelajaran bagi para peserta didik di
Negara kita. Berdasarkan materi utama yang diajarkan dalam pembelajaran
pengetahuan sosial baik ketika social studies ini lahir hingga sampai saat ini
berkembang dan berlaku di negara kita, dapat diketahui bahwa tujuan dari
pembelajaran Pengetahuan Sosial ini ada 4, yaitu :
a.
Membina
pengetahuan siswa tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat di
masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Yang tampak nyata berkaitan
dengan tujuan ini adalah adanya materi materi yang mengupas tentang
kehidupan-kehidupan masa lalu yang dalam kurikulum kita dinamakan dengan
pendidikan Sejarah. Sering kita dengar dan kita pahami bahwa tujuan adanya
pendidikan sejarah ini adalah agar manusia tidak lagi mengulangi kesalahan yang
telah dilakukan para pendahulunya. Akan tetapi yang ada sekarang adalah
fenomena terulangnya sejarah kelam yang pernah terjadi di masa lalu. Sedangkan
pengalaman manusia di saat sekarang termaktub dalam pembelajaran sosiologi,
ekonomi, tata negara yang banyak mengajarkan bagaimana tatanan kehidupan yang
saat ini sedang dijalankan. Namun di sekolah dasar, yang peserta didiknya masih
dalam tahap perkembangan, pembelajaran Pengetahuan Sosial masih dilakukan
secara terpadu, tidak terpisah-pisah sebagaimana dilaksanakan di pendidikan
tingkat pertama atau pun pendidikan tingkat atas.
b.
Mengembangkan
keterampilan siswa dalam mencari dan
mengolah informasi. Pengetahuan Sosial adalah suatu disiplin ilmu yang sangat
cepat mengalami perkembangan. Tidak perlu hitungan tahun atau bulan bulan,
dalam hitungan hari atau bahkan jam saja gejala-gejala sosial yang berkembang
di masyarakat dapat berubah-ubah. Jika kita sebagai orang yang bergelut dalam
bidang pendidikan tidak mampu mengikuti perkembangan informasi yang ada, maka
kita akan tertinggal oleh orang lain. Akibatnya kita akan menjadi orang
terbelakang dan dapat tersingkir dari “kompetisi hidup” yang berkembang di
masyarakat kita.
c.
Mengembangkan
nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana kita ketahui,
pengetahuan sosial adalah salah satu disiplin ilmu yang di dalamnya banyak
mengajrakan tentang tatacara pergaulan, bagaimana menjalani kehidupan bersama
orang lain, intinya membentuk jiwa manusia dalam posisi sebagai makhluk sosial.
Sebagaimana kita tahu, bahwa negara kita adalah negara yang mengedepankan asas
demokrasi dalam segala lini kehidupannya, maka sebagai mata pelajaran yang mengajarkan
tentang tata kehidupan sosial bagi para peserta didik, pengetahuan sosial di
negara kita ini mengarahkan agar peserta didik mampu bersikap demokratis dalam
hidupnya.
d.
Memfasilitasi
peserta didik agar dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat.
Anak-anak usia sekolah dasar sering yang memang masih anak-anak dalam tahap
perkembangan, sering diposisikan sebagai makhluk yang sekunder. Dalam arti
merekan dianggap belum memiliki peran dalam masyarakat, dan mereka belum dapat
memberi andil dalam kehidupan. Mereka diposisikan sebagai sosok yang harus
selalu dibantu. Memang benar, tetapi kita juga harus memahami bahwa keberadaan
mereka pasti bukan tanpa maksud dari yang kuasa. Tidak jarang perubahan akan
dating berangkat dari seorang anak kecil. Teladan, yang saat ini mungkin sulit
kita temui dari para orang tua, orang-orang berada baik harta maupun
kedudukannya, mungkin sekali malah dapat kita jumpai dari seorang anak. Maka
kita harus mulai berpikir bahwa, secara fisik dan psikis mereka adalah anak, namun
mereka pun pasti memiliki andil dalam kehidupan ini.
Empat hakikat tujuan pembelajaran Pengetahuan
Sosial tersebut dikemukakan oleh J.R. Chapin dan R.G. Messick. Dari sumber lain
saya temukan tentang tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial yaitu bahwa tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial
secara umum adalah menjadikan peserta didik sebagai warga negara
yang baik, dengan berbagai karakter yang berdimensi spiritual, personal,
sosial, dan intelektual (Soedarno Wiryohandoyo, 1997). PIPS menurut NCCS mempunyai
tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information), nilai dan
tingkah laku (attitude and values), dan tujuan ketrampilan (skill):
sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan ketrampilan intelektual (Jarolimelc,
1986:5-8). Menurut Awan Mutakin (1998), tujuan dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah untuk
mengembangkan siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di
masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan
yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari
baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.
2. Pengertian
Nilai
Nilai atau value adalah salah satu bagian penting
yang harus terpetik dalam pemerolehan pengalaman belajar anak selain pengetahuan
dan keterampilan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Manurut Fraenkel,
nilai adalah suatu konsep atau ide tentang apa yang penting dalam kehidupan
manusia itu. Sedangkan Rokeah dalam Djahiri mengemukakan bahwa nilai adalah
suatu jenis kepercayaan yang letaknya terpusat pada pusat dan sistem
kepercayaan seseorang, tentang bagaimana seorang sepatutnya atau tidak
sepatutnya dalam melakukan sesuatu, atau tentang apa yang berharga dan tidak
berharga untuk dicapai. Kesimpulan dari Djahiri bahwa nilai adalah harga yang
diberikan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu
(materiil-immateriil, personal, kondisional) atau harga yang dibawakan menjadi
suatu jati diri sesuatu.
Selain itu, Wahana (1933:66) menyebut nilai sebagai
segi yang bersifat imanen dan subjektif dari yang baik sejauh selaras dengan
sikap batin, kecenderungan serta kehendak insane. Sedangkan Mudjanto dalam
Wahana (1933:66) menyatakan bahwa nilai tidak hanya tanpak sebagai nilai bagi
seseorang tetapi nilai itu harus diterima oleh semua umat manusia. Nilai adalah
sesuatu yang patut dikejar dan dilaksanakan oleh semua orang. Oleh sebab itu
nilai dapat dikomunikasikan dengan orang lain.
Pengertian
lain tentang nilai menurut Nilai menurut Mulyana (2004:11), adalah rujukan dan
keyakinan dalam menentukan pilihan. Nilai merupakan sesuatu yang diinginkan
sehingga melahirkan tindakan pada diri seseorang. Menurut Frankel
(Kartawisastra, 1980: 1) nilai adalah standar tingkah laku, keindahan,
keadilan, kebenaran, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya untuk
dijalankan dan dipertahankan. Ditegaskan oleh Amborise dalam Mulyana (2004:23),
bahwa nilai itu sifatnya relatif yang merupakan landasan bagi perubahan dan
dapat ditanamkan melalui berbagai sumber seperti keluarga, masyarakat,
agama,media massa, tradisi, dan dalam pergaulan.
Rokeach
dalam Mulyana (2004:27) membuat klasifikasi nilai menjadi dua yakni nilai
instrumental dan nilai terminal. Nilai instrumental sering juga disebut nilai antara,
dan nilai terminal adalah sebagai nilai akhir. Sebagai contoh manusia yang memiliki
nilai insrumental hidup bersih, dia memiliki nilai akhir secara konsisten yakni
nilai keindahan dan kesehatan. Selain dua klasifikasi nilai seperti yang
disebutkan di atas, nilai yang sering dijadikan rujukan manusia dalam
kehidupannya dalam enam nilai yang terdapat dalam teori Spranger dalam Mulyana
(2004: 32-35) yakni nilai teoritik, nilai ekonomis, nilai estetik, nilai
sosial, nilai politik, dan nilai agama. Nilai teoritik melibatkan
pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran
sesuatu.
Nilai
ekonomis, terkait dengan perimbangan nilai yang berkadar untung dan
rugi, yang berarti mengutamakan kegunaan sesuatu bagi manusia. Nilai estetik,
disebut juga sebagai nilai keindahan yang sangat tergantung pada subjektif seseorang.
Nilai sosial, berakumulasi pada nilai tertinggi yakni kasih sayang antar
manusia. Nilai politik, kadar nilainya bergerak dari pengaruh yang
rendah menuju tinggi, atau sering disebut sebagai nilai kekuasaan. Nilai agama,
merupakan nilai yang bersumber dari kebenaran tertinggi yang datangnya dari
Tuhan.
3. Pengembangan
Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
Pendidikan nilai pada hakikatnya termuat dalam
setiap mata pelajaran tanpa kecuali karena makna nilai menempati tujuan
seutuhnya dari hakikat pendidikan. Namun pada kenyataannya, sesuai dengan
perkembangan dan karakteristik disiplin ilmu masing-masing mata pelajaran ada
beberapa mata pelajaran yang mengindikasikan bahwa penanaman nilai hanya dapat
dilakukan melalui mata pelajaran tertentu. Dalam perkembangannya suatu cabang
ilmu dapat berkembang dan seolah terlepas dari hakikat tujuan pembelajaran pada
mulanya yakni penananman nilai-nilai kepada siswa.
Dari kenyataan tersebut tampak bahwa salah satu
tujuan pendidikan adalah mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai ilmu,
dalam hal ini siswa dituntut untuk dapat mengetahui, memahami, menerapkan dst
(sesuai taksonomi Bloom) dan sering kali guru sebagai pelaksana langsung
pendidikan melupakan bahwa seharusnya penanaman nilai afektif dan psikomotor
juga harus dilaksanakan. Riset yang menunjukkan bahwa andil IQ (kemampuan
kognitif) bagi kesuksesan hidup seseorang kalah jauh dibandingkan dengan andil
EQ dan SQ seseorang. Apa artinya seseorang memiliki kemampuan olah piker yang
luar biasa namun hatinya biadab dan ia lupa akan jatidirinya sebagai makhluk.
Pembelajaran IPS, meski pun secara nyata tidak
memiliki muatan-muatan selayaknya mata pelajaran PKn atau pun pendidikan agama,
namun sebagaimana disebutkan di depan bahwa semua mata pelajaran pada
hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan nilai-nilai kebajika
kepada peserta didik. IPS yang memiliki muatan amat komplek mulai dari sejarah,
ekonomi, tata negara, sosiologi dan sebagainya yang sebenarnya jika diamati
cabang disiplin ilmu itu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Dari fakta
tersebut maka sebenarnya muatan-muatan IPS sangat bisa dan memungkinkan sekali
digunakan sebagai sarana menanamkan nilai kebajikan bagi para siswa. Meski pun
berdiri sendiri dan terpisah dengan PKn namun antara IPS dan PKn memiliki
keselarasan materi.
Body of knowledge pengetahuan sosial sebagai bidang
studi yang memiliki muatan dan kerangka teknis sesuai tujuan dan sasaran
operasionalyang ingin dicapai. Mengenai pendidikan nilai, tentu takakan dpat
lepas dari konsep belajar. Belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif
tetap (permanen) pada perilaku yang terjadi akibat latihan sedangkan perubahan
perilaku yang terjadi bukan karena latihan tetapi karena proses kematangan, itu
tidak termasuk dalam kategori belajar ( Atkinson dkk). Sedangkan Dimyati berpandangan
bahwa belajar adalah sebuah perilaku di mana saat orang belajar responnya
menjadi lebih baik, sebaliknya bila tidak belajar, maka responya menurun.
IPS sebagai salah satu matapelajaran inti di seklah
dasar yang di dalamnya termuat berbagai cabang disiplin ilmu yang kesemuanya
menyangkut dan dekat dengan kehidupan siswa sangat potensial dalam
mengajarkannya sekaligus digunakan untuk menanamkan nilai kepada siswa. Dari sejarah siswa dpat diajak belajar tentang
kehidupan masa lalu, apa yang dapat kita teladani, dan apa pula yang dapat kita
jadikan pengalaman agar kita tidak mengulangi kesalahan yang telah lalu.
Belajar sejarah akan membentuk kebijaksanaan seseorang. Kita juga jadi tahu dan
paham asal muasal kita, sehingga kita tidak sepatutnya menyombongkan diri.
Dari geografi, kita dapat belajar betapa ciptaan
Tuhan amatlah luar biasa. Tanpa kuasanya dunia ini tidak akan dapat tercipta.
Manusia hanyalah makhluk kecil yang tiada berdaya di hadapan Tuhan. Dari
geografi kita juga dapat belajar untuk mencintai alam. Alam memang tercipta
untuk manusia, tetapi manusia kadang lalai siapa yang menciptakan alam, dan
lalai menjaga alam. Akibatnya banyak kerusakan alam akibat perbuatan tangan
manusia. Dengan pembelajaran geografi selain ditanamkan konsep-konsep tentang
permukaan bumi, tetapi dapat kita terapkan bagaimana kita dapat memanfaatkan
ala mini dengan penuh kearifan, sehingga alam dapat bermanfaat bagi kita tetapi
kelestariannya tetap terjaga.
Dengan ilmu ekonomi kita dapat menanamkan nilai
kejujuran, kerja keras, kerjasama dan sebagainya. Tidak dipungkiri dalam hidup
ini pasti semua orang akan mengalami kegiatan ekonomi. Baik dalam skala kecil
maupun dalam skala besar. Penanaman konsep sudah barang tentu dilaksanakan
dalam setiap kegiatan pembelajaran, namun penanaman nilai ssering kali
dilupakan, padahal sebenarnya penanaman nilai itu dapat dilakukan baik secara
implicit maupun dengan eksplisit.
Dari contoh tiga cabang pengetahuan sosial tadi kita
dapat menganalogikan dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar yang mana
cabang-cabang pengetahuan sosial tadi masih terbungkus dalam satu wadah yang
disebut Ilmu Pengetahuan Sosial. Jika cabang-cabangnya saja dapat dimuati
dengan nilai-nilai kebajikan, maka kumpulan cabang-cabang itu juga pasti dapat
dimuati nilai-nilai kebaikan tersebut. Penanamannya kepada siswa dapat
dilakukan dengan nyata, langsung dapat pula dilaksanakan dengan tidak langsung,
seperti dengan pemberian teladan dari guru sendiri maupun dari orang lain.
BAB III
Penutup
a.
Kesimpulan
Pembelajaran IPS sebagaimana hakikat
tujuan seluruh mata pelajaran adalah untuk membentuk peserta didik menjadi
manusia yang berkarakter, berkepribadian dan memiliki perilaku yang baik, maka
dalam pembelajaran IPS dapat pula dilaksanakan pembelajaran nilai. Penanaman
nilai-nilai kebaikan dapat dilakukan melalui semua cabang ilmu pengetahuan
sosial baik secara eksplisit maupun secara implicit. Pengetahuan sosial yang di
sekolah dasar masih dibelajarkan kepada siswa secara terpadu dapat dilaksanakan
dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut.
b.
Saran
Sebagaimana
saat ini sedang gencar-gencarnya pelaksanaan pendidikan karakter dengan
pelaksanaannya dilakukan secara terintregasi dalam pembelajaran setiap mata
pelajaran, maka sudah saatnya guru menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri
siswa. Penanaman nilai tersebut dilaksanakan dalam upaya membentuk jiwa peserta
didik agar menjadi manusia yang cerdas akal dan budinya, bukan sekedar cerdas
secara kognitif saja. Guru sebagai model bagi para siswanya hendaknya mampu
menyajikan keteladanan dari dalam dirinya (lebih utama) dan jangan hanya mampu
menyajikan contoh suatu keteladanan.
Daftar
Pustaka
S. Ichas Hamid Al Lamri, Tuti Istianti Ichas.
2006. Pengembangan Pendidikan Nilai Dalam Pembelajaran Pengetahuan
Sosial di Sekolah Dasar. Depdiknas : Jakarta
Supardi, Saliman. 2007. Pembelajaran Nilai Dalam
Pembelajaran IPS di SMP