Senin, 10 Maret 2014

PEM­­BELAJARAN IPS SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI

PEM­­BELAJARAN IPS SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI
Disusun untuk melengkapi tugas matakuliah Pengembangan Pembelajaran IPS di SD
Dosen pengampu Mujinem, M.Pd


logo colour.jpeg


Oleh
Murwantara (10108247051)
Kelas H PKS

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011
Abstrak
            Pembelajaran IPS sebagai salah satu mata pelajaran pokok di sekolah dasar sangat memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan diri siswa. Pembentukan diri siswa dapat dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran yang di dalamnya tidak hanya mengajarkan konsep-konsep kognitif tetapi juga harus mengedepankan penanaman nilai-nilai kebaikan. Nilai-nilai kebaikan ini bertujuan agar peserta didik dapat tumbuh menjadi manusia yang memiliki jatidiri dan karakter yang baik. Saat ini pendidikan banyak yang orientasinya hanya membentuk manusia yang cerdas tapi kurang memperhatikan budi dan akhlaknya.
            Meskipun IPS bukan mata pelajarn yang secara nyata mengajarkan konsep-konsep tentang moral ataupun akhlak namun melalui IPS pun nilai-nilai kebaikan tetap dapat ditanamkan pada diri siswa. Muatan materi dalam pembelajaran IPS yang sangat banyak dan dekat dengan kehidupan nyata siswa sangat berpotensi dijadikan sarana menanamkan nilai-nilai kebaikan pada diri siswa. Cabang-cabang IPS yang terdiri dari sejarah, ekonomi, geografi, sosiologi, dst dapat dimuati nilai-nilai yang sesuai dengan kajian utama cabang-cabang ilmu tersebut.
            Berdasarkan kenyataan bahwa saat ini sedang gencar dilaksanakan pendidikan karakter dengan langkah awal melaksanakan pendidikan nilai dalam sekolah. Selain itu, penanaman nilai pada diri siswa juga sangat dipengaruhi oleh adanya keteladanan dari diri seorang guru. Hal ini mengingat guru adalah model bagi para siswanya.

Kata Kunci : Pendidikan nilai, karakter, model, IPS


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
            Pendidikan bukanlah sekedar proses pemindahan ilmu dari guru kepada siswa atau yang populer disebut dengan transfer of knowledge. Lebih dari itu pendidikan merupakan proses merubah, membentuk hingga menjadikan subjek pendidikan kita yaitu peserta didik secara seutuhnya menjadi manusia yang berguna, berkarakter dan memiliki jatidiri. Untuk dapat menjadikan peserta didik menjadi manusia yang berguna, berkarakter dan memiliki jatidiri maka perlu adanya penanaman nilai-nilai kebajikan pada diri peserta didik. Sebagaimana saat ini yang sedang digalakkan oleh pemerintah, yaitu tentang pendidikan karakter, maka pendidikan saat ini dituntut dapat menjadi saranan menanamkan nilai-nilai yang mampu membentuk karakter peserta didik.
            Adanya pandangan bahwa penanaman nilai yang mengarah pada pembentukan karakter siswa hanya dapat dilaksanakan dalam mata pelajaran tertentu harus jauh-jauh kita buang. Bahwa penanaman nilai pada diri siswa dapat dilakukan melalui semua mata pelajaran, tak terkecuali pendidikan sosial, dalam hal ini adalah IPS. Pendidikan nilai yang bertumpu pada pembentukan karakter siswa dapat dilakukan melalui semua mata pelajaran secara terintregasi dalam pembelajaran.
            Dalam makalah ini akan dibahas bagaimanakah proses penanaman nilai melalui mata pelajaran IPS dan bagaimana pula peran mata pelajaran IPS dalam menanamkan nilai kepada siswa. Meski pun kebanyakan orang beranggapan bahwa penanaman nilai hanya dapat dilaksanakan melalui pendidikan budi pekerti, Pendidikan Agama maupun Pendidikan Kewarganegaraan, namun sejatinya melalui IPS pun proses penanaman nilai pun dapat dilaksanakan.
            Terkait bahwa esensi dari tujuan pembelajaran IPS adalah berkaitan dengan tatanan kehidupan baik di keluarga, masyarakat maupun dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sebenarnya IPS sangat dapat dijadikan sebagai media penanaman nilai-nilai kebajikan bagi siswa.
B.  Rumusan Masalah
1.      Apakah hakikat tujuan pembelajaran Penegtahuan Sosial di SD ?
2.      Apakah pengertian nilai ?
3.      Bagaimanakah pengembangan pendidikan nilai dalam pembelajaran IPS di SD ?
C.  Tujuan  Penulisan Makalah
            Sebagaimana telah terumuskan di atas, maka dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai jawaban atas pertanyaan yang muncul tadi. Dalam makalah ini akan membahas mengenai :
1.      Hakikat tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
2.      Mendeskripsikan pengertian nilai dari berbagai sumber
3.      Memaparkan pengembangan pendidikan nilai dalam pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD



BAB II
Pembahasan
1.    Hakiakat Tujuan Pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
Pengetahuan sosial tidak lahir dari bangsa Indonesia. Akan tetapi Social Studies ini berkembang dan akhirnya menjadi suatu mata pelajaran bagi para peserta didik di Negara kita. Berdasarkan materi utama yang diajarkan dalam pembelajaran pengetahuan sosial baik ketika social studies ini lahir hingga sampai saat ini berkembang dan berlaku di negara kita, dapat diketahui bahwa tujuan dari pembelajaran Pengetahuan Sosial ini ada 4, yaitu :
a.       Membina pengetahuan siswa tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat di masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang. Yang tampak nyata berkaitan dengan tujuan ini adalah adanya materi materi yang mengupas tentang kehidupan-kehidupan masa lalu yang dalam kurikulum kita dinamakan dengan pendidikan Sejarah. Sering kita dengar dan kita pahami bahwa tujuan adanya pendidikan sejarah ini adalah agar manusia tidak lagi mengulangi kesalahan yang telah dilakukan para pendahulunya. Akan tetapi yang ada sekarang adalah fenomena terulangnya sejarah kelam yang pernah terjadi di masa lalu. Sedangkan pengalaman manusia di saat sekarang termaktub dalam pembelajaran sosiologi, ekonomi, tata negara yang banyak mengajarkan bagaimana tatanan kehidupan yang saat ini sedang dijalankan. Namun di sekolah dasar, yang peserta didiknya masih dalam tahap perkembangan, pembelajaran Pengetahuan Sosial masih dilakukan secara terpadu, tidak terpisah-pisah sebagaimana dilaksanakan di pendidikan tingkat pertama atau pun pendidikan tingkat atas.
b.      Mengembangkan keterampilan siswa dalam mencari  dan mengolah informasi. Pengetahuan Sosial adalah suatu disiplin ilmu yang sangat cepat mengalami perkembangan. Tidak perlu hitungan tahun atau bulan bulan, dalam hitungan hari atau bahkan jam saja gejala-gejala sosial yang berkembang di masyarakat dapat berubah-ubah. Jika kita sebagai orang yang bergelut dalam bidang pendidikan tidak mampu mengikuti perkembangan informasi yang ada, maka kita akan tertinggal oleh orang lain. Akibatnya kita akan menjadi orang terbelakang dan dapat tersingkir dari “kompetisi hidup” yang berkembang di masyarakat kita.
c.       Mengembangkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan bermasyarakat. Sebagaimana kita ketahui, pengetahuan sosial adalah salah satu disiplin ilmu yang di dalamnya banyak mengajrakan tentang tatacara pergaulan, bagaimana menjalani kehidupan bersama orang lain, intinya membentuk jiwa manusia dalam posisi sebagai makhluk sosial. Sebagaimana kita tahu, bahwa negara kita adalah negara yang mengedepankan asas demokrasi dalam segala lini kehidupannya, maka sebagai mata pelajaran yang mengajarkan tentang tata kehidupan sosial bagi para peserta didik, pengetahuan sosial di negara kita ini mengarahkan agar peserta didik mampu bersikap demokratis dalam hidupnya.
d.      Memfasilitasi peserta didik agar dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan bermasyarakat. Anak-anak usia sekolah dasar sering yang memang masih anak-anak dalam tahap perkembangan, sering diposisikan sebagai makhluk yang sekunder. Dalam arti merekan dianggap belum memiliki peran dalam masyarakat, dan mereka belum dapat memberi andil dalam kehidupan. Mereka diposisikan sebagai sosok yang harus selalu dibantu. Memang benar, tetapi kita juga harus memahami bahwa keberadaan mereka pasti bukan tanpa maksud dari yang kuasa. Tidak jarang perubahan akan dating berangkat dari seorang anak kecil. Teladan, yang saat ini mungkin sulit kita temui dari para orang tua, orang-orang berada baik harta maupun kedudukannya, mungkin sekali malah dapat kita jumpai dari seorang anak. Maka kita harus mulai berpikir bahwa, secara fisik dan psikis mereka adalah anak, namun mereka pun pasti memiliki andil dalam kehidupan ini.
Empat hakikat tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial tersebut dikemukakan oleh J.R. Chapin dan R.G. Messick. Dari sumber lain saya temukan tentang tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial yaitu bahwa tujuan pembelajaran Pengetahuan Sosial secara umum adalah menjadikan peserta didik sebagai warga negara yang baik, dengan berbagai karakter yang berdimensi spiritual, personal, sosial, dan intelektual (Soedarno Wiryohandoyo, 1997). PIPS menurut NCCS mempunyai tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information), nilai dan tingkah laku (attitude and values), dan tujuan ketrampilan (skill): sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan ketrampilan intelektual (Jarolimelc, 1986:5-8). Menurut Awan Mutakin (1998), tujuan dari Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah untuk mengembangkan siswa agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa masyarakat.

2.    Pengertian Nilai
Nilai atau value adalah salah satu bagian penting yang harus terpetik dalam pemerolehan pengalaman belajar anak selain pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Manurut Fraenkel, nilai adalah suatu konsep atau ide tentang apa yang penting dalam kehidupan manusia itu. Sedangkan Rokeah dalam Djahiri mengemukakan bahwa nilai adalah suatu jenis kepercayaan yang letaknya terpusat pada pusat dan sistem kepercayaan seseorang, tentang bagaimana seorang sepatutnya atau tidak sepatutnya dalam melakukan sesuatu, atau tentang apa yang berharga dan tidak berharga untuk dicapai. Kesimpulan dari Djahiri bahwa nilai adalah harga yang diberikan seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu (materiil-immateriil, personal, kondisional) atau harga yang dibawakan menjadi suatu jati diri sesuatu.
Selain itu, Wahana (1933:66) menyebut nilai sebagai segi yang bersifat imanen dan subjektif dari yang baik sejauh selaras dengan sikap batin, kecenderungan serta kehendak insane. Sedangkan Mudjanto dalam Wahana (1933:66) menyatakan bahwa nilai tidak hanya tanpak sebagai nilai bagi seseorang tetapi nilai itu harus diterima oleh semua umat manusia. Nilai adalah sesuatu yang patut dikejar dan dilaksanakan oleh semua orang. Oleh sebab itu nilai dapat dikomunikasikan dengan orang lain.
Pengertian lain tentang nilai menurut Nilai menurut Mulyana (2004:11), adalah rujukan dan keyakinan dalam menentukan pilihan. Nilai merupakan sesuatu yang diinginkan sehingga melahirkan tindakan pada diri seseorang. Menurut Frankel (Kartawisastra, 1980: 1) nilai adalah standar tingkah laku, keindahan, keadilan, kebenaran, dan efisiensi yang mengikat manusia dan sepatutnya untuk dijalankan dan dipertahankan. Ditegaskan oleh Amborise dalam Mulyana (2004:23), bahwa nilai itu sifatnya relatif yang merupakan landasan bagi perubahan dan dapat ditanamkan melalui berbagai sumber seperti keluarga, masyarakat, agama,media massa, tradisi, dan dalam pergaulan.
Rokeach dalam Mulyana (2004:27) membuat klasifikasi nilai menjadi dua yakni nilai instrumental dan nilai terminal. Nilai instrumental sering juga disebut nilai antara, dan nilai terminal adalah sebagai nilai akhir. Sebagai contoh manusia yang memiliki nilai insrumental hidup bersih, dia memiliki nilai akhir secara konsisten yakni nilai keindahan dan kesehatan. Selain dua klasifikasi nilai seperti yang disebutkan di atas, nilai yang sering dijadikan rujukan manusia dalam kehidupannya dalam enam nilai yang terdapat dalam teori Spranger dalam Mulyana (2004: 32-35) yakni nilai teoritik, nilai ekonomis, nilai estetik, nilai sosial, nilai politik, dan nilai agama. Nilai teoritik melibatkan pertimbangan logis dan rasional dalam memikirkan dan membuktikan kebenaran sesuatu.
Nilai ekonomis, terkait dengan perimbangan nilai yang berkadar untung dan rugi, yang berarti mengutamakan kegunaan sesuatu bagi manusia. Nilai estetik, disebut juga sebagai nilai keindahan yang sangat tergantung pada subjektif seseorang. Nilai sosial, berakumulasi pada nilai tertinggi yakni kasih sayang antar manusia. Nilai politik, kadar nilainya bergerak dari pengaruh yang rendah menuju tinggi, atau sering disebut sebagai nilai kekuasaan. Nilai agama, merupakan nilai yang bersumber dari kebenaran tertinggi yang datangnya dari Tuhan.
3.    Pengembangan Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di SD
Pendidikan nilai pada hakikatnya termuat dalam setiap mata pelajaran tanpa kecuali karena makna nilai menempati tujuan seutuhnya dari hakikat pendidikan. Namun pada kenyataannya, sesuai dengan perkembangan dan karakteristik disiplin ilmu masing-masing mata pelajaran ada beberapa mata pelajaran yang mengindikasikan bahwa penanaman nilai hanya dapat dilakukan melalui mata pelajaran tertentu. Dalam perkembangannya suatu cabang ilmu dapat berkembang dan seolah terlepas dari hakikat tujuan pembelajaran pada mulanya yakni penananman nilai-nilai kepada siswa.
Dari kenyataan tersebut tampak bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah mengantarkan peserta didik untuk dapat menguasai ilmu, dalam hal ini siswa dituntut untuk dapat mengetahui, memahami, menerapkan dst (sesuai taksonomi Bloom) dan sering kali guru sebagai pelaksana langsung pendidikan melupakan bahwa seharusnya penanaman nilai afektif dan psikomotor juga harus dilaksanakan. Riset yang menunjukkan bahwa andil IQ (kemampuan kognitif) bagi kesuksesan hidup seseorang kalah jauh dibandingkan dengan andil EQ dan SQ seseorang. Apa artinya seseorang memiliki kemampuan olah piker yang luar biasa namun hatinya biadab dan ia lupa akan jatidirinya sebagai makhluk.
Pembelajaran IPS, meski pun secara nyata tidak memiliki muatan-muatan selayaknya mata pelajaran PKn atau pun pendidikan agama, namun sebagaimana disebutkan di depan bahwa semua mata pelajaran pada hakikatnya memiliki tujuan yang sama, yakni menanamkan nilai-nilai kebajika kepada peserta didik. IPS yang memiliki muatan amat komplek mulai dari sejarah, ekonomi, tata negara, sosiologi dan sebagainya yang sebenarnya jika diamati cabang disiplin ilmu itu sangat dekat dengan kehidupan siswa. Dari fakta tersebut maka sebenarnya muatan-muatan IPS sangat bisa dan memungkinkan sekali digunakan sebagai sarana menanamkan nilai kebajikan bagi para siswa. Meski pun berdiri sendiri dan terpisah dengan PKn namun antara IPS dan PKn memiliki keselarasan materi.
Body of knowledge pengetahuan sosial sebagai bidang studi yang memiliki muatan dan kerangka teknis sesuai tujuan dan sasaran operasionalyang ingin dicapai. Mengenai pendidikan nilai, tentu takakan dpat lepas dari konsep belajar. Belajar diartikan sebagai perubahan yang relatif tetap (permanen) pada perilaku yang terjadi akibat latihan sedangkan perubahan perilaku yang terjadi bukan karena latihan tetapi karena proses kematangan, itu tidak termasuk dalam kategori belajar ( Atkinson dkk). Sedangkan Dimyati berpandangan bahwa belajar adalah sebuah perilaku di mana saat orang belajar responnya menjadi lebih baik, sebaliknya bila tidak belajar, maka responya menurun.
IPS sebagai salah satu matapelajaran inti di seklah dasar yang di dalamnya termuat berbagai cabang disiplin ilmu yang kesemuanya menyangkut dan dekat dengan kehidupan siswa sangat potensial dalam mengajarkannya sekaligus digunakan untuk menanamkan nilai kepada siswa.  Dari sejarah siswa dpat diajak belajar tentang kehidupan masa lalu, apa yang dapat kita teladani, dan apa pula yang dapat kita jadikan pengalaman agar kita tidak mengulangi kesalahan yang telah lalu. Belajar sejarah akan membentuk kebijaksanaan seseorang. Kita juga jadi tahu dan paham asal muasal kita, sehingga kita tidak sepatutnya menyombongkan diri.
Dari geografi, kita dapat belajar betapa ciptaan Tuhan amatlah luar biasa. Tanpa kuasanya dunia ini tidak akan dapat tercipta. Manusia hanyalah makhluk kecil yang tiada berdaya di hadapan Tuhan. Dari geografi kita juga dapat belajar untuk mencintai alam. Alam memang tercipta untuk manusia, tetapi manusia kadang lalai siapa yang menciptakan alam, dan lalai menjaga alam. Akibatnya banyak kerusakan alam akibat perbuatan tangan manusia. Dengan pembelajaran geografi selain ditanamkan konsep-konsep tentang permukaan bumi, tetapi dapat kita terapkan bagaimana kita dapat memanfaatkan ala mini dengan penuh kearifan, sehingga alam dapat bermanfaat bagi kita tetapi kelestariannya tetap terjaga.
Dengan ilmu ekonomi kita dapat menanamkan nilai kejujuran, kerja keras, kerjasama dan sebagainya. Tidak dipungkiri dalam hidup ini pasti semua orang akan mengalami kegiatan ekonomi. Baik dalam skala kecil maupun dalam skala besar. Penanaman konsep sudah barang tentu dilaksanakan dalam setiap kegiatan pembelajaran, namun penanaman nilai ssering kali dilupakan, padahal sebenarnya penanaman nilai itu dapat dilakukan baik secara implicit maupun dengan eksplisit.
Dari contoh tiga cabang pengetahuan sosial tadi kita dapat menganalogikan dalam pembelajaran IPS di sekolah dasar yang mana cabang-cabang pengetahuan sosial tadi masih terbungkus dalam satu wadah yang disebut Ilmu Pengetahuan Sosial. Jika cabang-cabangnya saja dapat dimuati dengan nilai-nilai kebajikan, maka kumpulan cabang-cabang itu juga pasti dapat dimuati nilai-nilai kebaikan tersebut. Penanamannya kepada siswa dapat dilakukan dengan nyata, langsung dapat pula dilaksanakan dengan tidak langsung, seperti dengan pemberian teladan dari guru sendiri maupun dari orang lain.



BAB III
Penutup
a.    Kesimpulan
            Pembelajaran IPS sebagaimana hakikat tujuan seluruh mata pelajaran adalah untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang berkarakter, berkepribadian dan memiliki perilaku yang baik, maka dalam pembelajaran IPS dapat pula dilaksanakan pembelajaran nilai. Penanaman nilai-nilai kebaikan dapat dilakukan melalui semua cabang ilmu pengetahuan sosial baik secara eksplisit maupun secara implicit. Pengetahuan sosial yang di sekolah dasar masih dibelajarkan kepada siswa secara terpadu dapat dilaksanakan dengan menanamkan nilai-nilai kebaikan tersebut.
b.   Saran
            Sebagaimana saat ini sedang gencar-gencarnya pelaksanaan pendidikan karakter dengan pelaksanaannya dilakukan secara terintregasi dalam pembelajaran setiap mata pelajaran, maka sudah saatnya guru menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam diri siswa. Penanaman nilai tersebut dilaksanakan dalam upaya membentuk jiwa peserta didik agar menjadi manusia yang cerdas akal dan budinya, bukan sekedar cerdas secara kognitif saja. Guru sebagai model bagi para siswanya hendaknya mampu menyajikan keteladanan dari dalam dirinya (lebih utama) dan jangan hanya mampu menyajikan contoh suatu keteladanan.



Daftar Pustaka
S. Ichas Hamid Al Lamri, Tuti Istianti Ichas. 2006.  Pengembangan Pendidikan       Nilai Dalam Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar. Depdiknas : Jakarta

Supardi, Saliman. 2007. Pembelajaran Nilai Dalam Pembelajaran IPS di SMP

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jalani, Nikmati, Syukuri (Review Buku)

Jalani, Nikmati, Syukuri (Sebuah resensi buku sufistik implikatif karya Dwi Suwiknyo) Assalamualikum warahmatulah wabarakatuh, ...