Selasa, 27 Februari 2018

Jalani, Nikmati, Syukuri (Review Buku)


Jalani, Nikmati, Syukuri
(Sebuah resensi buku sufistik implikatif karya Dwi Suwiknyo)

Assalamualikum warahmatulah wabarakatuh,
          Salam sejahtera, damai dalam bhineka bagi kita semua.
       Kawan, perkenankan kali ini saya menuliskan sebuah resensi buku, atau lebih tepatnya adalah penuturan akan pengalaman batin yang saya alami manakala saya menikmati goresan-goresan pemikiran penulis hebat, Mas Dwi Suwiknyo dalam buku bersampul dominan warna merah dengan Judul Jalani, Nimati, Syukuri ini.
            Buku dengan tebal 259 halaman yang diterbitkan oleh Noktah (Diva Press Group) ini diterbitkan pada awal tahun 2018 ini. Awal ketertarikan saya terhadap buku adalah kepada penulisnya. Mas Dwi (kadang saya sapa Pak Yai) adalah narasumber pelatihan kepenulisan pertama yang saya ikuti. Kemampuannya memotivasi penulis pemula macam saya ini sangat menarik. Gaya motivasinya tidak memerlukan kata-kata mutiara atau gesture wibawa layaknya para motivator. Simple, mengena, dan tentu saja dapat dengan serta merta memompa semangat dalam diri. Nah, gaya seperti inilah yang akan kawan-kawan dapati manakala membaca buku merah ini.
            Buku merah ini berisi berbagai tema yang kesemuanya berkenaan dengan perihal kehidupan kita. Kehidupan yang sangat erat dan dapat saya katakan mungkin sekali dialami oleh semua orang. Bagaimana kita harus bersikap manakala dirundung kegagalan yang secara beruntun menyerang kita? Bagaimana kita menyikapi kesalahan orang lain? Bagaimana menghadapi cemoohan orang lain? Bagaimana kita harus menentukan pilihan dari beberapa hal yang tersaji di hadapan kita? Dan masih bayak lagi. Sedikit bayak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan kawan-kawan dapatkan dari buku merah tersebut.

Beberapa kiat dalam menyikapi permasalahan hidup yang menarik untuk kita ulas salah satunya ada pada tema seni memaklumi. Bagaimana memaklumi dapat dianggap sebagai sebuah seni? Dalam tulisannya, Mas Dwi menceritakan bahwa dalam suatu kantor ada seorang pekerja baru. Pekerja tersebut bertugas sebagai penjaga malam di kantor itu. Suatu ketika Sang Bos merasa terkejut mendapati tagihan air di kantornya mendadak meningkat. Usut punya usut ternyata kunci permasalahannya adalah pada kamar mandi-kamar mandi kantor yang aliran airnya tidak pernah dimatikan. Singkat cerita sang Bos memanggil pekerja baru yang bertugas menjadi penjaga malam. Dialog pun terjadi dan tahu lah Sang Bos bagaimana bisa terjadi lonjakan tagihan air. Ternyata Si Penjaga Malam tidak pernah mematikan kran air di kamar mandi. Mengapa tanya Sang Bos seketika mendengar jawaban Si Penjaga Malam. Jawabannya sagat mengejutkan. Si Penjaga Malam menjawab bahwa di kampungnya yang ada di pegunungan di mana dekat dengan sumber air, air yang mengalir di rumah-rumah warga tidak pernah dimatikan. Si Penjaga Malam berpikir bahwa hal yang sama berlaku di kantor tersebut. Marah? Mengamuk? Bagaimana sikap Sang Bos? Memecat Si Penjaga Malam? Mungkin itu yang dipikirkan oleh Si Penjaga Malam dan juga kita pada umumnya.Mungkin.Hmmm.
Bagaimana kenyataannya? Di luar dugaan, Sang Bos malah tertawa mendengar jawaban dari Si Penjaga Malam. Sang Bos sangat memaklumi “kesalahan” yang dilakukan oleh Si Penjaga Malam. Ketakutan yang dirasakan Si Penjaga Malam pun tidak terjadi.
            Bagaimana kawan? Biasa saja kah kisah ini? Menurut saya ini kisah yang luar biasa. Seringkali kita dalam bersosialisasi baik di rumah, di kantor, di masyarakat mendapati kawan, atasan, bawahan (emange baju ya), melakukan kesalahan (kekhilafan) yang kadang entah bayak atau sedikit merugika kita. Lihatlah bagaimana Sang Bos bersikap manakala mengetahui kesalahan anak buahnya. Sama-sama mengeluarkan energi untuk mereespon kesalahan tersebut, namun energi positif mengajak Sang Bos untuk memberi respon positif pula. Tiada kemarahan, tiada suara kasar, tiada muka marah, bahkan sebaliknya malah Sang Bos tertawa. Tentu saja buka tertawa dalam arti mengejek, tetapi tertawa sebagai rasa maklum atas ketidaktahuan Si Penjaga Malam. Bayangkan, suasana seperti apa kala itu jika Sang Bos marah-marah, membentak, mengancam, bahakan jika sampai memukul. Huft, membayangkan saya sudah menguras energi. Tetapi (biar fair) bayangka pula bagaimana suasana interogasi yang terjadi. Sang Bos tidak marah, tidak membentak, bahkan malah tertawa menyadari ketidakpahaman si penjaga malam. Tentu si penjaga malam juga akan tertawa, minimal tersenyum malu, menyadari kekhilafannya.
            Hal sepele, bahkan dapat dikatakan sangat biasa. Namun demikian jika kita runut lebih jauh hal serupa merupakan salah satu perilaku dari manusia paling mulia di dunia ini. Siapa dia? Muhammad SAW. Coba kawan-kawa ingat manakala Rasulullah sedang berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya. Saat beliau dan para sahabat sedang asyik berdiskusi tiba-tiba ada orang arab badui yang masuk ke masjid, lalu kencing di dalam masjid tersebut. Apa yang terjadi? Sahabat marah. Ada yang hendak menghardik, ada yang akan membentak, dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Nabi? Mirip dengan kisah Sang Bos da Si Penjaga Malam, Nabi menghentikan sahabat-sahabatnya untuk menyerang Si Badui. Biarkan ia (Badui) menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai barulah Nabi menghampiri Si Badui lalu menjelaskan adab orang buang hajat da adab di dalam masjid. Tidak ada kata-kata kasar keluar, tidak ada perlakuan kasar yang terjadi, tidak ada yang cedera balik malah terjadi kasih sayang antar sesama manusia.
            Masya Allah. Sungguh, dalam buku Mas Dwi ini terdapat ajakan-ajakan yang luar biasa, dan tidak jarang sesungguhnya adalah ajaran Nabi yang telah dibalut dalam bahasa keseharian kita. Bahasa yang menjadikan kita mudah memahami, menghayati, dan mengamalkan (Kayak P4 aja) pesan dan makna yang tersurat dalam buku Mas Dwi ini.
            Hanya itu sajakah isi buku tersebut? Oh tentu saja tidak. Kisah di atas hanyalah satu contoh saja yang saya sajikan sebagai stimulus buat kawan-kawan. Stimulus buat apa? Ya tentu saja stimulus buat kawan-kawan agar lebih kepo terhadap isi buku tersebut. Tidak berlebihan jika saya menyebut buku tersebut laksana obat bagi kehidupan kita. Buku tersebut dapat menjadi alternatif bacaan yang sangat “rekomended” di tengah banyak beredaranya tulisan-tulisan bernada kebencian yang tidak jarang mengajak pada perpecahan. Padahal jika kita amati lebih jauh mengonsumsi bacaan-bacaan yang berenergi negatif itu seperti membiarkan diri kita terjangkit virus. Siapa filter terbaik? Ya diri kita sendiri. Salah satu usaha untuk menangkal masuknya virus-virus jahat itu ya dengan memperbanyak konsumsi terhadap bacaan-bacaan yang positif.
Bagaimana kemudian saya berani mengatakan buku Mas Dwi ini adalah sebuah buku sufistik implikatif? Begini, setelah membaca buku JNS (Jalani, Nikmati, Syukuri) saya merasakan bahwa di dalam buku tersebut banyak sekali menyajikan sikap-sikap yang jika kita pahami lebih mendalam sangat sufistik. Memaklumi, menerima kenyataan pahit, lalu berani bangkit, berkhusnudzon dengan Allah, dan masih banyak hal lagi, menurut saya merupakan sebuah sikap dan perilaku ayng sulit untuk dijalani. Beberapa pelaku ilmu tasawuf adalah segelintir manusia yang mampu menjalani laku-laku anti mainstream tersebut. Nah, dengan buku merahnya, Mas Dwi ini sebenarnya sedang melakukan dakwah secara sangat halus. Dakwah agar bagaimana kita bisa menjalani hidup sebagai makhluk Allah dengan “penuh kepasrahan”.
Pasrah yang memiliki makna menyandarkan segala usaha kita hanya kepada Allah. Tinggal berserah apa pun keputusanNya. Maka saya mengira, judul Jalani, Nikmati, Syukuri adalah manifestasi dari kata pasrah tadi. Kita tidak mungkin bisa dengan ikhlas menjalani semua ketentuanNya tanpa ada rasa pasrah sedari awal. Apalagi menikmati segala sunnatullah yang seringkali tidak sesuai dengan haran kita. Maka bersyukur adalah kunci agar kita mampu menjalani, menikmati segala ketentuan dan nikmatNya.
Yang sangat menarik dari buku di samping ini(abaikan model fokus pada bukunya, hehehe), adalah banyaknya ajakan atau energi positif yang sangat mudah kita terapkan. Dalam arti tidak perlu harus dengan laku-laku yang membutuhkan prasyarat macam-macam layaknya para sufi. Ajakan-ajakan Mas Dwi sangat aplikatif bagi kehidupan kita. Hanya saja, kita harus memiliki kemantapan diri untuk bertindak, bersikap, berlaku yang sepertinya akan sedikit tampak tidak lazim pada kacamata umum. Akan menjadi luar biasa jika kita dapat melakukan ajakan-ajakan positif Mas Dwi sebagaimana tertulis dalam buku merahnya tersebut.
Silakan kawan-kawan membuktikan uraian saya ini. Bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan membaca buku JNS tersebut. Bagaimana cara mendapatkannya? Ya beli dong. Di Gramedia sudah banyak kok. Oke. Sekian review saya atas buku JNS milik Mas Dwi, semoga bisa menjadi rekomendasi buat kalian yang haus bacaan ringan namun memiliki makna mendalam. Bacaan jauh dari ujaran-ujaran kebencian ataupun kepentingan tertentu. Eits, buku ini punya satu kepentingan dari penulisnya. Jadi mohon jangan berburuk sangka dulu. Apa itu? Ya tentu saja kepentingannya agar diterbitkan, menjadi best seller (aamiin) dan tentu saja mendatangkan royalti to ya. Itulah kepentingannya. Selamat membaca kawan-kawan. Salam literasi.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Sumber foto : Facebook Dwi Suwiknyo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Jalani, Nikmati, Syukuri (Review Buku)

Jalani, Nikmati, Syukuri (Sebuah resensi buku sufistik implikatif karya Dwi Suwiknyo) Assalamualikum warahmatulah wabarakatuh, ...