Jalani,
Nikmati, Syukuri
Assalamualikum warahmatulah
wabarakatuh,
Salam sejahtera, damai dalam bhineka bagi kita semua.
Kawan, perkenankan kali ini saya menuliskan sebuah
resensi buku, atau lebih tepatnya adalah penuturan akan pengalaman batin yang
saya alami manakala saya menikmati goresan-goresan pemikiran penulis hebat, Mas
Dwi Suwiknyo dalam buku bersampul dominan warna merah dengan Judul Jalani,
Nimati, Syukuri ini.
Buku dengan tebal 259 halaman yang diterbitkan oleh
Noktah (Diva Press Group) ini diterbitkan pada awal tahun 2018 ini. Awal
ketertarikan saya terhadap buku adalah kepada penulisnya. Mas Dwi (kadang saya
sapa Pak Yai) adalah narasumber pelatihan kepenulisan pertama yang saya ikuti.
Kemampuannya memotivasi penulis pemula macam saya ini sangat menarik. Gaya
motivasinya tidak memerlukan kata-kata mutiara atau gesture wibawa layaknya para motivator. Simple, mengena, dan tentu
saja dapat dengan serta merta memompa semangat dalam diri. Nah, gaya seperti
inilah yang akan kawan-kawan dapati manakala membaca buku merah ini.
Buku merah ini berisi berbagai tema yang kesemuanya
berkenaan dengan perihal kehidupan kita. Kehidupan yang sangat erat dan dapat
saya katakan mungkin sekali dialami oleh semua orang. Bagaimana kita harus
bersikap manakala dirundung kegagalan yang secara beruntun menyerang kita?
Bagaimana kita menyikapi kesalahan orang lain? Bagaimana menghadapi cemoohan
orang lain? Bagaimana kita harus menentukan pilihan dari beberapa hal yang
tersaji di hadapan kita? Dan masih bayak lagi. Sedikit bayak jawaban dari pertanyaan-pertanyaan
ini akan kawan-kawan dapatkan dari buku merah tersebut.
Bagaimana
kenyataannya? Di luar dugaan, Sang Bos malah tertawa mendengar jawaban dari Si
Penjaga Malam. Sang Bos sangat memaklumi “kesalahan” yang dilakukan oleh Si Penjaga
Malam. Ketakutan yang dirasakan Si Penjaga Malam pun tidak terjadi.
Bagaimana kawan? Biasa saja kah kisah ini? Menurut saya
ini kisah yang luar biasa. Seringkali kita dalam bersosialisasi baik di rumah,
di kantor, di masyarakat mendapati kawan, atasan, bawahan (emange baju ya), melakukan
kesalahan (kekhilafan) yang kadang entah bayak atau sedikit merugika kita.
Lihatlah bagaimana Sang Bos bersikap manakala mengetahui kesalahan anak
buahnya. Sama-sama mengeluarkan energi untuk mereespon kesalahan tersebut,
namun energi positif mengajak Sang Bos untuk memberi respon positif pula. Tiada
kemarahan, tiada suara kasar, tiada muka marah, bahkan sebaliknya malah Sang
Bos tertawa. Tentu saja buka tertawa dalam arti mengejek, tetapi tertawa sebagai
rasa maklum atas ketidaktahuan Si Penjaga Malam. Bayangkan, suasana seperti apa
kala itu jika Sang Bos marah-marah, membentak, mengancam, bahakan jika sampai
memukul. Huft, membayangkan saya sudah menguras energi. Tetapi (biar fair)
bayangka pula bagaimana suasana interogasi yang terjadi. Sang Bos tidak marah,
tidak membentak, bahkan malah tertawa menyadari ketidakpahaman si penjaga
malam. Tentu si penjaga malam juga akan tertawa, minimal tersenyum malu,
menyadari kekhilafannya.
Hal sepele, bahkan dapat dikatakan sangat biasa. Namun
demikian jika kita runut lebih jauh hal serupa merupakan salah satu perilaku
dari manusia paling mulia di dunia ini. Siapa dia? Muhammad SAW. Coba
kawan-kawa ingat manakala Rasulullah sedang berada di masjid bersama sahabat-sahabatnya.
Saat beliau dan para sahabat sedang asyik berdiskusi tiba-tiba ada orang arab
badui yang masuk ke masjid, lalu kencing di dalam masjid tersebut. Apa yang
terjadi? Sahabat marah. Ada yang hendak menghardik, ada yang akan membentak,
dan lain sebagainya. Bagaimana dengan Nabi? Mirip dengan kisah Sang Bos da Si
Penjaga Malam, Nabi menghentikan sahabat-sahabatnya untuk menyerang Si Badui.
Biarkan ia (Badui) menyelesaikan hajatnya. Setelah selesai barulah Nabi
menghampiri Si Badui lalu menjelaskan adab orang buang hajat da adab di dalam
masjid. Tidak ada kata-kata kasar keluar, tidak ada perlakuan kasar yang
terjadi, tidak ada yang cedera balik malah terjadi kasih sayang antar sesama
manusia.
Masya Allah. Sungguh, dalam buku Mas Dwi ini terdapat ajakan-ajakan
yang luar biasa, dan tidak jarang sesungguhnya adalah ajaran Nabi yang telah
dibalut dalam bahasa keseharian kita. Bahasa yang menjadikan kita mudah
memahami, menghayati, dan mengamalkan (Kayak P4 aja) pesan dan makna yang
tersurat dalam buku Mas Dwi ini.
Hanya itu sajakah isi buku tersebut? Oh tentu saja tidak.
Kisah di atas hanyalah satu contoh saja yang saya sajikan sebagai stimulus buat
kawan-kawan. Stimulus buat apa? Ya tentu saja stimulus buat kawan-kawan agar
lebih kepo terhadap isi buku tersebut. Tidak berlebihan jika saya menyebut buku
tersebut laksana obat bagi kehidupan kita. Buku tersebut dapat menjadi
alternatif bacaan yang sangat “rekomended” di tengah banyak beredaranya
tulisan-tulisan bernada kebencian
yang tidak jarang mengajak pada perpecahan. Padahal jika kita amati lebih jauh
mengonsumsi bacaan-bacaan yang berenergi negatif itu seperti membiarkan diri
kita terjangkit virus. Siapa filter terbaik? Ya diri kita sendiri. Salah satu
usaha untuk menangkal masuknya virus-virus jahat itu ya dengan memperbanyak
konsumsi terhadap bacaan-bacaan yang positif.
Pasrah
yang memiliki makna menyandarkan segala usaha kita hanya kepada Allah. Tinggal
berserah apa pun keputusanNya. Maka saya mengira, judul Jalani, Nikmati,
Syukuri adalah manifestasi dari kata pasrah tadi. Kita tidak mungkin bisa
dengan ikhlas menjalani semua ketentuanNya tanpa ada rasa pasrah sedari awal.
Apalagi menikmati segala sunnatullah yang seringkali tidak sesuai dengan haran
kita. Maka bersyukur adalah kunci agar kita mampu menjalani, menikmati segala
ketentuan dan nikmatNya.
Yang sangat menarik
dari buku di samping ini(abaikan model fokus pada bukunya, hehehe), adalah banyaknya ajakan atau energi positif yang sangat mudah
kita terapkan. Dalam arti tidak perlu harus dengan laku-laku yang membutuhkan
prasyarat macam-macam layaknya para sufi. Ajakan-ajakan Mas Dwi sangat
aplikatif bagi kehidupan kita. Hanya saja, kita harus memiliki kemantapan diri
untuk bertindak, bersikap, berlaku yang sepertinya akan sedikit tampak tidak
lazim pada kacamata umum. Akan menjadi luar biasa jika kita dapat melakukan
ajakan-ajakan positif Mas Dwi sebagaimana tertulis dalam buku merahnya
tersebut.
Silakan
kawan-kawan membuktikan uraian saya ini. Bagaimana caranya? Ya tentu saja
dengan membaca buku JNS tersebut. Bagaimana cara mendapatkannya? Ya beli dong.
Di Gramedia sudah banyak kok. Oke. Sekian review saya atas buku JNS milik Mas
Dwi, semoga bisa menjadi rekomendasi buat kalian yang haus bacaan ringan namun
memiliki makna mendalam. Bacaan jauh dari ujaran-ujaran kebencian ataupun
kepentingan tertentu. Eits, buku ini punya satu kepentingan dari penulisnya. Jadi
mohon jangan berburuk sangka dulu. Apa itu? Ya tentu saja kepentingannya agar
diterbitkan, menjadi best seller
(aamiin) dan tentu saja mendatangkan royalti to ya. Itulah kepentingannya.
Selamat membaca kawan-kawan. Salam literasi.
Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Sumber
foto : Facebook Dwi Suwiknyo.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar